Udah gaperlu aing kasih tau lagi ya, ini tempat aing ngebacot tentang hidup aing, karena aing gamau ngebacot di line dan semacamnya.
Nonton film, serial, anime? Main game? Dengerin lagu?
Mereka bisa menghibur karena mereka membawa aing ke tempat yang jauh, yang begitu berbeda dari kehidupan real-life. Mereka memberi aing imajinasi. Macam sebuah padang rumput hijau yang tenang di pinggiran kota, atau rasa excited saat base jumping, atau bahkan megang senjata api di tangan, dan menembak kepala musuh yang barusan membunuh sahabat aing karena dendam pribadi saat main game. Aing belajar ngertiin pesan apa sih yang sebenernya penulis lagu coba sampaikan ke pendengarnya (atau kalo penulis lagunya samasekali ga niat), lalu aing coba ngerti pesan-pesan itu. Aing beneran kebayang sebuah resepsi pernikahan orang saat aing denger lagu Wedding Bell nya Depapepe. Aing mencoba ngerti mungkin sebenernya si "boy" ini dia sendiri, dia cuma berkontemplasi akan dirinya sendiri ketika aing denger lagu High and Dry nya Radiohead. Aing merasakan sulit dan senangnya hidup di jaman kolonial Hindia Belanda ketika aing baca Tetralogi Buru nya Pramoedya Ananta Toer. Betapa senangnya, bukan? Kenyataan tidak semenarik itu kan?
Aing butuh distraksi itu, yang ngebuat aing terlepas dari gangguan dan kebosanan sekitar, yang begitu mudah mencengkeram isi kepala dan hati aing dari fantasi terliar di luar sana. Makin liar, makin mahal pula harganya, namun makin bahagialah aing jadinya. Maka kita semua menghabiskan waktu, tenaga dan uang untuk mengidolakan hobi-hobi ini. Aing kenal temen yang ngakunya sih udah habisin berjuta-juta buat ngisi Steam Wallet, semacam uang virtual untuk beli game dan konten lainnya. Makin jauh kita dari kenyataan, maka makin mendekati kenyataan pula fantasi itu. Mereka memberikan kita apa yang tak bisa (atau gagal) kita dapatkan sehari-hari: emosi.
Makanya aing menyenangi hobi-hobi kayak gini. Aing jadi punya pelarian. Aing jadi merasa punya fallback option seandainya things go south. Aing punya senjata rahasia ketika aing merasa dunia ini udah cukup kejam, sehingga aing bisa kembali bahagia dan coba melawan dunia lagi, itulah hobi aing. Hormon-hormon dan segala chemicals di otak aing dicampur jadi satu ketika aing main game. Kebijaksanaan aing serasa meningkat sesaat (namun signifikan) ketika aing baca novel bagus. Aing merasa ngerti dengan perasaan orang-orang sekitar aing ketika aing mencoba ngerti perasaan pembuat lagu, yang aing simpulkan dari isi lagunya. Aing belajar menikmati hal-hal kecil, kayak ngopi bareng sobat sambil kajian profil kaderisasi, ditemani terang rembulan tengah malam. Walau lagi ribet otaknya tapi aing selipin syukur diantara tegukan kopi pahit asam gayo aceh temen aing itu (yang aing minta). Aing jadi ngerasa hidup ini punya lebih arti dari yang terlihat awalnya.
Lalu dengan hal ini, masih ada aja yang ngatain hobi aing ga produktif? Tentu lah, maneh ngarep apa gil. Apa yang orang lain liat? Aing duduk depan komputer hampir 12 jam sehari pas liburan. Aing pake headset diem duduk di belakang mobil dan dimarahin pas ternyata mamah manggil tapi aing ga jawab. Aing baca one piece dikira main hape doang ga guna pas lagi nunggu makan bareng keluarga di rumah, dan aing nyadar kok. Aing liat tatapan-tatapan sekitar aing yang menjudge aing korban teknologi, ketagihan medsos dan semacamnya. Padahal mereka sendiri lagi liat tv.
Ini hidup aing. Ini cara aing menghadapi hidup aing, dibandingkan cara-cara orang lain di luar sana yang beralih ke drugs dan minum-minum ketika mereka masih (atau selalu) dilarang minum. Lalu orang akan berargumen, "tapi si dia baik-baik aja, dan dia ga main game atau suka denger lagu kok."
Ya, orang bakal berargumen. Dan the truth is aing gapunya argumen apapun buat melawannya, selain argumen murahan "hidupmu hidupku".
Lalu, akhirnya pernyataan sejuta umat.
Jadi siapa yang salah?
Duh, gajadi kan aing bikin indomie malem ini
Duh, gajadi kan aing bikin indomie malem ini