One of the best.
Monday, July 17, 2017
Monday, July 3, 2017
Full version dari Instagram
Kemahasiswaan itu,
menurut saya, sebuah hal yang fana. Tidak satupun orang di institut,
universitas, sekolah, maupun institusi pendidikan lainnya sebenarnya mampu
menjelaskannya dengan beberapa patah kata saja. Jangan percaya mereka, jangan
percaya orang-orang itu.
Namun, seperti pun halnya
dunia ini, kefanaan suatu hal tidak menentukan seberapa besar manfaatnya bagi
kita semua.
Masih banyak lingkup
dunia ini yang masih jauh dari jangkauan kita, seberapa jauhpun kita melangkah.
Masih banyak hutan-hutan yang masih belum terjamah, masih dalam lautan ini
belum terpetakan, masih banyak restoran sate kulit, bakso, maupun bubur di
Bandung yang belum didatangi. Masih banyak pula pemikiran-pemikiran brilian
yang belum kita pahami, masih banyak tokoh kampus yang belum kita ajak bicara,
masih banyak teman-teman kita sendiri pun yang belum kita “kenal”.
Rencana tidak selalu
berhasil. Parameter-parameter keberhasilan belum tentu tercapai, kajian semalam
suntuk tidak selalu membuahkan hasil manis, sate maranggi tidak selalu sepi
lewat keluar Tol Cikamuning. Tapi hal-hal seperti itulah yang sesungguhnya
membuat kita sadar akan kemampuan kita sendiri sebagai manusia, di antara
segala rencana Allah yang maha agung ini. Lalu bersyukurlah kita pada detik itu
juga, telah ditunjukkan jalan yang lebih baik, seberapa jauh pun jalan itu
memutar, ke Padalarang lagi.
Berterimakasihlah,
meminta maaflah. Kita tidak akan pernah terlalu muda untuk berterima kasih
kepada orang-orang tua, pun tidak pernah kita akan terlalu tua untuk meminta
maaf pada bawahan kita. Sebagai panitia pendidik semacam osjur,
bertanggungjawablah atas semua pekerjaan kita memikirkan hal itu, karena nyawa
dan jiwa manusia yang kita pegang. Sebagai pemangku jabatan, tetaplah rendah
hati, bergurulah kepada mereka yang lebih berpengalaman, dan janganlah lupa
akan segala proses akademik yang harus kita lewati. Sebagai alumni, janganlah
malu untuk banyak meluangkan waktu bersama yang lebih muda, karena sudah
waktunya kita mendidik mereka menjadi entitas yang lebih produktif dari kita
sendiri.
Maka benar,
kemahasiswaan itu hal yang fana. Jangan sekali-kali meringkasnya hanya dengan
tiga-empat kata. Bahkan percobaan saya ini pun tidak selesai dalam tiga
paragraf sepanjang ini. Namun karena segala bermulai dari niat, di situ pulalah
semuanya akan kembali. Sefana apapun suatu hal, manfaat akan berlimpah dan pula
hambatan akan mencoba menggulingkan segala yang kita anggap sakral. Namun,
itulah kemahasiswaan. Aktualisasi diri, berkembang secara dinamis, dilengkapi
kesadaran bahwa segala hal ini delusi yang fana, akan membawa kita kepada suatu
benang merah. Benang merah yang harus kita simpulkan sendiri masing-masing.
Subscribe to:
Posts (Atom)