Monday, July 3, 2017

Full version dari Instagram

Kemahasiswaan itu, menurut saya, sebuah hal yang fana. Tidak satupun orang di institut, universitas, sekolah, maupun institusi pendidikan lainnya sebenarnya mampu menjelaskannya dengan beberapa patah kata saja. Jangan percaya mereka, jangan percaya orang-orang itu.

Namun, seperti pun halnya dunia ini, kefanaan suatu hal tidak menentukan seberapa besar manfaatnya bagi kita semua.

Masih banyak lingkup dunia ini yang masih jauh dari jangkauan kita, seberapa jauhpun kita melangkah. Masih banyak hutan-hutan yang masih belum terjamah, masih dalam lautan ini belum terpetakan, masih banyak restoran sate kulit, bakso, maupun bubur di Bandung yang belum didatangi. Masih banyak pula pemikiran-pemikiran brilian yang belum kita pahami, masih banyak tokoh kampus yang belum kita ajak bicara, masih banyak teman-teman kita sendiri pun yang belum kita “kenal”.

Rencana tidak selalu berhasil. Parameter-parameter keberhasilan belum tentu tercapai, kajian semalam suntuk tidak selalu membuahkan hasil manis, sate maranggi tidak selalu sepi lewat keluar Tol Cikamuning. Tapi hal-hal seperti itulah yang sesungguhnya membuat kita sadar akan kemampuan kita sendiri sebagai manusia, di antara segala rencana Allah yang maha agung ini. Lalu bersyukurlah kita pada detik itu juga, telah ditunjukkan jalan yang lebih baik, seberapa jauh pun jalan itu memutar, ke Padalarang lagi.

Berterimakasihlah, meminta maaflah. Kita tidak akan pernah terlalu muda untuk berterima kasih kepada orang-orang tua, pun tidak pernah kita akan terlalu tua untuk meminta maaf pada bawahan kita. Sebagai panitia pendidik semacam osjur, bertanggungjawablah atas semua pekerjaan kita memikirkan hal itu, karena nyawa dan jiwa manusia yang kita pegang. Sebagai pemangku jabatan, tetaplah rendah hati, bergurulah kepada mereka yang lebih berpengalaman, dan janganlah lupa akan segala proses akademik yang harus kita lewati. Sebagai alumni, janganlah malu untuk banyak meluangkan waktu bersama yang lebih muda, karena sudah waktunya kita mendidik mereka menjadi entitas yang lebih produktif dari kita sendiri.


Maka benar, kemahasiswaan itu hal yang fana. Jangan sekali-kali meringkasnya hanya dengan tiga-empat kata. Bahkan percobaan saya ini pun tidak selesai dalam tiga paragraf sepanjang ini. Namun karena segala bermulai dari niat, di situ pulalah semuanya akan kembali. Sefana apapun suatu hal, manfaat akan berlimpah dan pula hambatan akan mencoba menggulingkan segala yang kita anggap sakral. Namun, itulah kemahasiswaan. Aktualisasi diri, berkembang secara dinamis, dilengkapi kesadaran bahwa segala hal ini delusi yang fana, akan membawa kita kepada suatu benang merah. Benang merah yang harus kita simpulkan sendiri masing-masing.