Hanya ingin update aja, dan bercerita tentang kehidupan selama dua puluh tahun ini. Dua dekade ini, keren ga sih, aing masih hidup? Keren boy! Banyak cerita-cerita indah, banyak masalah menumpuk, yang bisa diceritain maupun engga, banyak pula achievement yang serasa mediocre maupun yang aing sendiri anggap cukup bersinar di atas segalanya.
Sedikit cerita tentang kehidupan, ada sebuah momen yang sampai sekarang masih aing pikirin. Temen-temen aing lagi saling curhat, lagi cerita tentang kehidupannya masing-masing dan masalahnya juga. Ketika aing lagi di perbincangan semacam itu, aing merasa lebih senang menjadi pendengar, daripada ikut berkeluh kesah tentang masalah hidup aing, yang sebenernya kalo diceritain pun gaakan muncul sebuah solusi terang benderang juga. Anyway, ketika mereka selesai curhat, kan normal lah ya, temen-temen yang lain mencoba mensolusikan, entah karena mereka genuinely care about their problems atau sekedar ingin membandingkan saja dengan masalah yang mereka punya sendiri. Tapi bener loh, ada tipe orang kayak gitu. Tipe orang, yang ketika denger masalah orang lain, malah serasa gatal untuk menceritakan masalahnya sendiri, yang (secara relatif) lebih besar, dengan harapan bahwa orang yang pertama cerita masalahnya itu berpikir "wah iya ya, dia aja masalahnya lebih besar, masa aing gini doang langsung ngedown".
Wah keren banget sih. Bukan, aing bukan sarkasme atau gimana, tapi aing benar-benar mengapresiasi mereka yang mencoba hal seperti itu, apalagi kalo eksekusi ceritanya juga top (tidak merendahkan masalah awal itu, ikut bersimpati, pada akhirnya juga mencoba mensolusikan masalah awal tersebut). Kenapa aing apresiasi? Karena itu secara teori (yang aing pikirin sendiri sih) adalah cara paling sulit untuk mencoba menarik simpati orang yang baru aja menceritakan masalahnya. Orang tersebut ingin mencoba mencari solusi, setidaknya hanya ingin didengar, namun kita sebagai pendengar malah membalikkan cerita tersebut dengan masalah besar lain dengan tujuan orang tersebut mengerti relativitas "masalah besar" tersebut. Itu ketika eksekusinya kurang top, seperti yang aing bilang tadi, bakal mengakibatkan timbul pikiran dari sang pencerita "apaan sih aing juga yang lagi cerita, malah curhat juga dia", atau "apaan sih si eta banding-bandingin cerita aing sama dia, hidup aing bukan hidup maneh", atau bahkan lebih parahnya lagi "apaan sih, masalah aing lebih besar juga", dan efektifnya malah kontra-produktif dengan apa yang diinginkan.
Gini loh, pandangan aing. Masalah hidup orang itu beda-beda. Aing juga pernah cerita ini ke seseorang, bahwa menurut aing masalah hidup orang itu secara bentuk fisik luarnya jauh berbeda, karena faktor internal, lingkungan, paparan dan lain lain. Namun, sebenernya yang semua orang rasakan adalah sama.
Kenapa sih ada orang yang bersikeras masalahnya paling besar? Kenapa sih, ada orang yang menganggap ga bisa punya rumah bagus dan mobil banyak itu masalah, meanwhile ada juga orang yang menganggap masalahnya adalah cari makan nasi, cukup seporsi tiap harinya?
Karena sebenernya yang kita rasakan itu sama cuy.
Orang itu, straight-A student dari universitas (atau institut) terbaik bangsa, menganggap bahwa nilai kalkulus TPBnya B adalah penghancur karirnya sampai ia sempat menulis surat wasiat yang rencananya akan ia email ke orang tuanya ketika dia sudah wafat dengan tali yang ia kekang sendiri ke tangga kosannya.
Orang yang lain lagi, baru saja dapat kecelakaan motor yang mengharuskan ia duduk di kursi roda sepanjang hidupnya, seengganya setelah dia punya cukup harta untuk beli kaki palsu yang harganya.. entah berapa. Ia pun sama, menulis surat wasiat, bahkan sudah ia tulis sendiri dengan tangannya yang masih berfungsi, di kertas buram bekas ujiannya.
Ketika kedua orang itu sudah bersiap untuk melakukan hal yang sama, yaitu mengakhiri hidupnya yang sengsara itu, bukankah hakikatnya yang mereka rasakan itu sama? Jelas loh, masalah mereka beda jauh. Jangan pikir juga bahwa masalah si orang pertama cukup sepele, ingat faktor lingkungan. Jangan pikir juga bahwa masalah si orang kedua cukup pantas untuk disolusikan dengan bunuh diri, liat di dunia nyata ini ada seorang motivator yang kerjanya tiap hari memotivasi orang untuk berbuat lebih, bahkan dengan keadaan dianya sendiri kehilangan kedua tangan dan kedua kakinya. Search aja deh kalo ga percaya, Nick Vujicic. Itu contoh ekstrimnya. Masa harus dapat bukti sih, kalo di dunia ini juga berjuta-juta orang lumpuh dan harus di kursi roda tapi merasa bahwa hidupnya bahagia saja.
Jadi sebenernya no matter masalah kita itu apa, apa yang kita rasakan itu tetep ada levelnya. Level yang sebenernya maksimalnya sama untuk semua orang. Lihatlah relativitas masalah itu, dan betapa jomplang bedanya, namun betapa kedua orang itu sama-sama berani melakukan hal sama (yang bodoh) untuk hidupnya.
Ga ada masalah di hidup kita yang kita sendiri ga bisa hadapi. Allah memberikan cobaan sesuai kemampuan umat-Nya sendiri, dan Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mencoba merubah nasibnya sendiri, ingat itu. Kedua masalah yang jauh beda, sebenarnya merupakan volume "garam" yang sama di air tawar, jernih dalam hati kita. Yang merupakan variabel adalah seberapa besar hati kita menampung air jernih itu, agar jumlah garam yang sama tidak terasa seasin itu. Seasin itu, sampai kita rasa hidup ini udah ga worth it lagi. Coba aja sendiri di rumah, taroh sejumput garam yang kalian aduk di segelas air tawar. Rasain. Bedain dengan sejumput air garam yang sama, yang kalian lempar ke danau air tawar (yang sekiranya bersih, kalo mau coba beneran). Itulah analogi yang cukup tepat (bukan original idea, aing pernah baca ceritanya di mana ya sori lupa) yang cocok buat ini.
Itulah yang aing coba pesankan di cerita ini. Masalah segimanapun ada maksimal volume garam yang Allah coba lemparkan ke hati kita. Emang bener, cobaan datangnya dari Allah. Tapi apakah itu artinya Allah meninggalkan kita? Justru Allah melakukan itu karena Allah sayang sama kita, dan justru berhati-hatilah ketika kalian udah ga merasa punya cobaan lagi di hidup ini.
Dan pesan terakhir, sekali lagi, aing tidak menulis ini dengan sarkasme atau pesan tersembunyi hate speech untuk orang-orang yang merasa mendengarkan cerita orang lain dengan cara bercerita juga tentang masalahnya sendiri yang lebih besar. Aing cuma berpesan, berhati-hatilah, karena hati orang beda-beda. Beda volume air tawar yang bisa ditampung hati si A, dibandingkan si B. Makanya, satu langkah menuju kebijaksanaan (yang aing sendiri harap benar, karena aing pun masih jauh dari bijak), adalah dengan tau bahwa manusia diciptakan beda-beda, namun dengan porsi kehidupan yang sama. Masalah orang beda-beda kawan, jangan samakan perasaan kalian tentang satu masalah, apalagi membandingkannya, dengan perasaan mereka tentang masalah tersebut. Cobalah sedikit mengerti, bahwa yang mereka anggap berat adalah berat. Dari situlah kalian bisa coba mengerti mereka sedikit demi sedikit, dan suatu saat kalian akan mengerti bahwa hidup ini cukup indah.
Post selanjutnya (insyaallah) tentang masalah hidup aing. Udah lama ga ngeluh di blog ini.
"Life is a tragedy for those who feel, and a comedy for those who think" - Jean de La Bruyere (semoga bener nulisnya)Aing juga suatu saat akan menceritakan interpretasi aing terhadap quote di atas. Interpretasi aing tidak sedangkal itu, bahwa manusia lebih baik berpikir daripada merasa.
Kontrakan seorang teman yang banyak mengajarkan cara berpikir, juga cara merasa.
Bandung, 8 Oktober 2017
Happy Birthday H+13 for me! and H-sekian untuk sesorang yang cukup spesial.
H+13 sendiri pun angkanya cukup spesial. Suatu saat akan kuceritakan tentangmu.