Bakal ada yang beda kah? Kalo bisa muter waktu?
Friday, March 31, 2017
Sunday, March 19, 2017
Kekuasaan?
Lihat sekarang mereka jadi seperti apa? Atau, bahkan merasa tanggung jawabnya selesai, lalu ga peduli lagi dengan mereka?
Apa argumen kalian?
"Aing yakin mereka bakal cabut-cabutan setelah dikasih jaket"
Yakin? Contoh kata-kata orang yang merasa realistis namun ternyata jatuh menjadi budak asumsi yang ceroboh. Hati hati sama asumsimu, karena toh yang lebih lama bareng mereka ya kami sebagai panitia kaderisas, bukan anda sekalian sebagai yang baru datang dan merubah segalanya.
"Kita ga boleh asumsiin mereka bakal tetep ada di sini setelah dikasih jaket. Makanya, kita tunda jaket mereka sampe mereka bisa buktiin, dengan konkrit, kalo mereka bisa ada terus di acara-acara kita. Kasih syarat, yang tinggi, yang mereka harus lakuin biar kita bisa percaya ke depannya aman"
Pertama, coba ngaca lah, dikit aja. Kalian semua ingin, atau bahkan butuh, regenerasi angkatan yang lebih baik dari kami semua, oke saya juga satu tujuan dengan anda. Tapi dengan memplot standar yang sebegitu tingginya untuk mereka? Dan menganggap itu sebuah STANDAR? Nilai kalian sendiri masih 35, tapi kalian berani minta KKM buat angkatan bawah nilai 80? Proses bukanlah hasil, yang cuma kalian lihat akhirnya doang. Proses regenerasi dan penaikan standar agar terciptanya unit yang ke depannya makin baik dan sesuai visi besar dan AD-ART unit (lol) tuh sesuatu yang diinginkan semua orang, tapi apakah etis untuk menciptakan sebuah ketimpangan standar sebegitu besarnya dalam selang waktu satu tahun doang? Lalu kepikiran ga, kalau misalnya mereka ga bisa memenuhi standar setinggi itu barusan, tapi tetap udah (jauh) di atas angkatan kalian?
Kedua, kurang ajar juga anda sekalian ga menghargai berbulan-bulan pengorbanan saya dan panitia yang lain, dengan menganggap semua proses itu ga penting dan pada akhirnya "yauda, yg penting 8 hari acara beberapa minggu ke depan ini mereka dateng ya dilantik. Kalo engga ya dicoret". Kalian serius ga pertimbangkan apa isi proses kaderisasi berbulan-bulan itu? Kalian benar-benar ingin mempertaruhkan nyawa angkatan mereka dengan kehadiran full 100% 8 hari berturut-turut itu?
"Itu standar U**, kita punya standar yang ga boleh maneh turunin seenaknya gil"
Coba anda datang saat saya mencalonkan diri sebagai ketua proses kaderisasi dan anda state dengan suatu kepastian bahwa itu adalah standar unit saya, unit kita. Itu standar yang harusnya saya ambil?
Oh oke, berarti yang anda maksud adalah tiga angkatan aktif sekarang, 15-13 pun total ada, mungkin.. sekitar 20% yang memenuhi standar. Itu yang anda maksud standar? Lalu yang anda anggap kondisi ideal itu apa ya? 100% kehadiran semua acara dari awal sampai akhir tanpa izin?
Bedakan pendapat yang benar-benar bisa dan ingin membantu keadaan dan mencari solusi, dibandingkan dengan argumen cuma agar punya muka depan semua orang
Perbandingan
Kalian tahu batu?
Carilah batu di manapun. Dimana-mana banyak ada batu, dan saya rasa tak satupun dari kalian merasa merasa terobligasi untuk bersyukur karena batu tersebut telah ada.
Kalian tahu gedung pencakar langit?
Keren, kan? Saat kita, sebagai warga Indonesia, bisa hanya sekedar melihat kemegahan dan keindahan yang terpancar di depan mata ketika berdiri di bawah gedung pencakar langit?
--
Lalu, kalian tahu rasanya menjadi seonggok batu besar tergeletak di depan pintu kaca gedung pencakar langit? Egois, ingin menghalangimu agar bisa di dekatmu terus, padahal gedung itu sudah menjadi pelindungmu sejak lama, penenangmu di saat hujan, tempat naunganmu di saat terik.
Padahal, gedung dan batu sama-sama dibentuk dari tanah.
"The same boiling water that softens the potato hardens the egg"
-unknown
Saturday, February 4, 2017
Prinsip
Kadang hidup itu lucu.
Hidup aing selama ini punya banyak banget prinsip. Banyak yang selalu aing turutin, beberapa terpaksa aing langgar sendiri, beberapa aing update karena dirasa udah ga berlaku lagi, beberapa selalu terbukti benar setelah dihadapi puluhan pembuktian. Salah satunya, tipe prinsip aing yang selalu bener, yaitu tentang kebahagiaan x kesedihan.
Dari dulu, aing selalu percaya kalo hidup ini semuanya seimbang. Allah SWT gabakal ngasih sesuatu yang ga adil ke umatnya, dan aing selalu percaya itu. Semua orang hidup pada tempatnya. Semua orang jalanin hidupnya sesuai rencana Allah, dan sesuai usaha mereka sendiri--tergantung seberapa besar usaha mereka untuk berubah. Semua orang punya "poin" tersendiri ketika mereka lahir, dan jumlah "poin" semua umat-Nya selalu sama. Ga kurang, ga lebih. Sifat, perilaku, kebiasaan, dan pola pikir mereka diatur oleh poin-poin ini. Ketika kalian semua liat orang yang sukses, pintar, pekerja keras, dan bahkan good-looking, maka mereka dilahirkan (atau dilatih sampai) dengan poin-poin yang besar pada aspek-aspek tersebut. Tapi ingat, jumlah poin itu terbatas. Dengan berlebihnya poin-poin mereka di aspek tersebut, mau ga mau bakal ada aspek dimana poin tersebut kurang, atau bahkan gaada sama sekali. Misalnya dengan kasus orang sukses tadi, mungkin dia ternyata ga pernah ibadah, atau dia ga pernah ngabarin orangtuanya, atau dia punya tendensi untuk menyakiti pasangan, atau dia ketergantungan dengan narkoba, atau yang lain.
Sebaliknya pun sama. Orang yang kita lihat pemalas, susah berkomunikasi dengan orang sekitar, atau bahkan kriminal terkeji sekalipun pasti punya aspek dimana poin tersebut tinggi. Mungkin, siapa tau, para pembunuh di sel penjara di lapas sana ternyata punya bakat besar jadi pelukis, atau penyair. Mungkin, siapa tau, pemulung di sekitar kita yang datang setiap malam mengais-ngais sisa plastik bungkus makanan di tempat sampah itu ternyata seseorang yang bijak, yang sadar bahwa tanpa pekerjaannya demi memisahkan sampah-sampah anorganik dengan organik, kampung itu akan mengalami masalah sampah yang besar, walaupun dia sebenarnya masih bisa bekerja sebagai penjaja makanan keliling. Mungkin dia sebijak itu, atau mungkin dia sebenarnya punya bakat jadi pelari, yang kalo diajari betul oleh pelatih, bakal bisa mejuarai pekan olahraga tingkat nasional.
Semua itu emang absurd, tapi itu selalu aku percaya. Seindah-indahnya, sesempurnanya apapun manusia, pasti ada kesalahan diantaranya dan pasti punya kelemahan. Begitu juga sebaliknya, sehina apapun orang itu, pasti dia selalu punya sesuatu yang sebenarnya sangat berguna bagi hidup manusia.
Dan dengan asas keseimbangan itu, aing punya prinsip yang diturunkan langsung dari prinsip itu. Prinsip ini mengatakan bahwa selalu ada kebahagiaan besar setelah kesedihan yang besar juga. Sebaliknya pun berlaku.
Hari ini, 4 Februari 2017, aing sangat berharap banget bakal jadi hari dimana aing bisa sangat berbahagia, karena aing ngerasain beberapa hari kemarin sangatlah fucked up buat aing. Dan aing sangat hampir merasakan kebahagiaan sementara yang sempurna itu, ketika Danilla on stage di venue Darani Maneka yang aing datangi siang tadi.
Lalu aing ketemu seseorang, yang dulu benerbener jadi kebahagiaan aing, muncul bareng pacarnya. Setelah hampir dua tahun ga ngobrol karena dia udah mulai punya pacar dan merasa udah ga butuh bantuan aing lagi.
Lalu aing ketemu seseorang, yang dulu benerbener jadi kebahagiaan aing, muncul bareng pacarnya. Setelah hampir dua tahun ga ngobrol karena dia udah mulai punya pacar dan merasa udah ga butuh bantuan aing lagi.
Lalu aing gagal ketemu seseorang, yang aing harepin bisa bantu aing bahagia. Yang aing harepin bisa bantu aing geser posisi hidup aing dari asalnya reckless, goblok, dan berkelok-kelok jadi lebih teratur dan lebih baik. Dan mungkin garagara dia udah mulai tau kalo niat aing mungkin lebih dari teman, dan mungkin dia belum (atau emang ga pernah) siap untuk bantu aing.
Ternyata, saat ini prinsip aing yang satu itu terbukti salah. Atau seengganya, belum kerasa aja.
Semoga prinsip aing emang bener, dan suatu saat dalam waktu dekat aing bisa sangat berbahagia lagi. Bahagia kayak denger musiknya Danilla, Barasuara dan Naif tadi pas on stage. Bahagia aing murah, tapi aing anggap itu salahsatu poin plus aing.
Semoga.
Wednesday, December 7, 2016
[PRAKTIKUM] Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Halus
Tujuan
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat halus.
Alat & Bahan
- Timbangan dena ketelitian 0,1 gram atau kurang yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram atau lebih
- Piknometer dengan kapasitas 500 gram
- Cetakan kerucut pasir
- Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan kerucut pasir
Prosedur Percobaan
Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik
Sebagian dari contoh dimasukkan dalam metal sand cone mold.Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetak diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh
Contoh agregat halus sebesar 500 gram dimasukkan ke dalam piknometer. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung-gelembung udara dengan cara menggoyang-goyangkan piknometer, rendamlah piknometer dengan suhu air (73,4±3)oF selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dengan air.
Pisahkan benda uji dari piknometer dan keringkan pada suhu (213±130)oF. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam (1 hari).
Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur (73,4±3)oF dengan ketelitian 0,1 gram.
Hasil
Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik
Sebagian dari contoh dimasukkan dalam metal sand cone mold.Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetak diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh
Contoh agregat halus sebesar 500 gram dimasukkan ke dalam piknometer. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung-gelembung udara dengan cara menggoyang-goyangkan piknometer, rendamlah piknometer dengan suhu air (73,4±3)oF selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dengan air.
Pisahkan benda uji dari piknometer dan keringkan pada suhu (213±130)oF. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam (1 hari).
Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur (73,4±3)oF dengan ketelitian 0,1 gram.
Hasil

Tabel Hasil Pengamatan
Analisis
Berdasarkan hasil percobaan, kita harus meninjau 2 kondisi, yaitu kondisi kering dan kondisi SSD. Kondisi kering adalah kondisi agregat yang telah dimasukkan ke dalam oven sehingga mengalami pemanasan sehingga bagian dalam dan luar agregat sepenuhnya kering. Kondisi SSD adalah kondisi permukaan luar agregat dalam keadaan kering namun bagian dalam agregat masih terdapat kandungan air diantara rongga-rongganya. Pada kenyataannya akan sulit untuk mendapatkan agregat yang berada dalam kondisi kering sepenuhnya, sehingga kita perlu mengetahui presentase penyerapan air dari agregat tersebut. Kondisi yang biasa digunakan adalah kondisi SSD. Dengan mengetahui presentase absorpsi air dari agregat tersebut, maka akan mudah menentukan jumlah air yang perlu ditambahkan agar dapat melakukan mix design yang tepat.
Analisis
Berdasarkan hasil percobaan, kita harus meninjau 2 kondisi, yaitu kondisi kering dan kondisi SSD. Kondisi kering adalah kondisi agregat yang telah dimasukkan ke dalam oven sehingga mengalami pemanasan sehingga bagian dalam dan luar agregat sepenuhnya kering. Kondisi SSD adalah kondisi permukaan luar agregat dalam keadaan kering namun bagian dalam agregat masih terdapat kandungan air diantara rongga-rongganya. Pada kenyataannya akan sulit untuk mendapatkan agregat yang berada dalam kondisi kering sepenuhnya, sehingga kita perlu mengetahui presentase penyerapan air dari agregat tersebut. Kondisi yang biasa digunakan adalah kondisi SSD. Dengan mengetahui presentase absorpsi air dari agregat tersebut, maka akan mudah menentukan jumlah air yang perlu ditambahkan agar dapat melakukan mix design yang tepat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
